Habib Munzir Al Musawa : Biografi, Silsilah, Kisah, dan Dakwahnya

Habib Munzir bin Fuad Al Musawa atau sering dikenal dengan Habib Munzir Al Musawa atau Habib Munzir.

Beliau Habib Munzir lahir di Cipanas, Cianjur – Jawa Barat, pada tanggal 23 Februari 1973, Beliau sendiri adalah ulama yang berjuang untuk meneruskan dakwah Rasulullah, beliau juga dikenal sebagai pimpinan Majelis Rasulullah SAW, yang dakwahnya hingga menjangkau berbagai wilayah yang ada di Indonesia dan didunia.

Dakwah beliau yang sangat menyentuh berbagai kalangan, menjadikan beliau banyak dicintai oleh Ummat Islam terutama di wilayah Jabodetabek dan di Nusantara.

Habib Munzir ialah seorang murid yang begitu disayangi oleh gurunya Al Habib Umar bin Hafidz, akan tetapi kalangan pemuda muslim yang mengenalnya tidak jarang menjadikan beliau sebagai panutan maupun idola dalam mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.

Dakwah beliau di Indonesia juga tercatat sering di hadiri oleh tokoh-tokoh nasional seperti Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, Fadel Muhammad Suryadhama Ali dan lain sebagainya.

Silsilah Habib Munzir

Inilah silsilah beliau Habib Munzir bin Fuad Al Musawa sampai ke Rasulullah SAW dengan urutan sebagai berikut:

Al Habib Munzir bin Fuad bin Abdurrahmamn bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Al Musawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumy bin Muhammad Munaqib bin Ali Al Uraidhy bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein dari Siti Fatimah Azzahra Putri dari Rasulullah SAW.

Masa Kecil Habib Munzir Al Musawa

Beliau Habib Munzir dibesarkan oleh kedua orang tuanya dengan didikan yang lembut dan penuh kasih sayang. Habib Munzir sendiri, lahir dari keluarga yang sederhana, beliau adalah anak ke empat dari lima bersaudara dari pasangan Habib Fuad bin Abdurrahman Al Musawa dan Syarifah Rahmah binti Hasyim Al Musawa.

Dimasa kecil beliau Habib Munzir bin Fuad Al Musawa dihabiskan di daerah Cipanas Jawa Barat, bersama dengan saudara saudaranya beliau yaitu Habib Ramzy bin Fuad Al Musawa, Habib Nabil bin Fuad Al Musawa, Lulu al Musawa serta Aliyah Fuad Al Musawa.

Ayah Habib Munzir lahir di Kota Palembang dan dibesarkan di Mekkah, Seusai lulus dari pendidikan jurnalistik di New York University, Amerika Serikat, Ayah beliau lalu kembali bekerja menjadi seorang wartawan di luar negeri selama sekitar 40 tahunan, pada saat tahun 1996 ayah beliau wafat dan dimakamkan di Cipanas Cianjur, Jawa Barat.

Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas (SMA), Habib Munzir mulai mendalami ilmu Syari’at Islam di Ma’had Assafaqah, yang ketika itu masih di pimpin Al Habib Abdurrahman Assegaf, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, kemudian beliau mengambil kursus Bahasa Arab di LPBA Assalafy di Jakarta Timur, dan memperdalam lagi Syari’ah Islamiyyah di Ma’had Al- Khairat, Bekasi Timur.

Pada saat beliau di Ma’had Dar-Al Musthofa, Tarim Yaman Hadramaut. Disaat itulah beliau mendalami ilmu Syariah selama 4 Tahun. Berikut ini adalah ilmu yang didalami oleh Habib Munzir pada saat ditarim:

  • mendalami Ilmu Fiqih,
  • Ilmu Tafsir Al-Quran,
  • Ilmu Hadist,
  • Ilmu Sejarah,
  • Ilmu Tauhid,
  • IlmuTasawuf,
  • Ilmu Dakwah,
  • Mahabbaturrasul SAW
  • Dan berbagai ilmu syariah lainnya.

Habib Mundzir Putus Sekolah

habib munzir masa muda

Pada saat masa beliau baligh, Habib Munzir memutuskan untuk putus sekolah dan beliau lebih senang menghadiri di majelis maulid yang dipimpin oleh Alhmarhum Al Arif Billah Al Habib Umar bin Hud Al Attas, dan majelis ta’lim pada kamis sore di Empang, Bogor, yang ketika waktu itu membahas tentang Kajian Fathul Baari oleh Al Habib Husein bin Abdullah bin Muhsin Al Attas. Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan saudara-saudara kandung dari Habib Munzir berhasil membanggakan Orang tuanya dengan meraih hasil prestasi wisuda. Hal tersebut mengundang kekecewaan kedua orang tuanya terhadap Habib Munzir Muda.

Ayahnya pernah berkata “kamu ini mau jadi apa?, jika kamu menginginkan agama maka belajaralah dan tuntutlah ilmu hingga keluar Negeri, Akan tetapi jika kamu menginginkan untuk mendalami Ilmu Dunia maka tuntutlah ilmu hingga keluar Negeri. Namun Saran saya tuntulah Ilmu Agama terlebih dahulu, karena aku sudah mendalami keduanya dan aku tidak menemukan keberuntungan apa-apa dari kebanggaan orang yang sangat menyanjungkan Negeri Barat, walapun aku lulusan dari New York University, akan tetapi aku tidak bisa sukses di Dunia kecuali dengan melakukan kelicikan, saling sikut dalam kerakusan jabatan dan aku menghindari itu”.

Menurut Habib Munzir, saat itulah yang membuat beliau (Ayah Habib Munzir) lebih memilih hidup dalam kesederhanaan di Cipanas, Cianjur-Jawa barat. Dan lebih senang menyendiri di Ibukota, beliau juga mengajari anak-anaknya mengaji, ratib dan sholat berjamaah. Karena belum mempunyai cita-cita yang pasti baik dunia maupun akhirat, maka Habib munzir merasa sangat mengecewakan orang tuanya.

Habib Mundzir yang Selalu Merindukan Panutannya yaitu Rasulullah SAW

habib munzir al musawa

Ketika saat melewati masa yang berat di awal kedewasaannya, beliau merasa didorong dengan rasa bersalah sebab beliau membuat ayahnya merasa malu karena beliau menganggur, selaku sebagai orang pemuda muslim, maka Habib Munzir muda mengisi hari harinya dengan bersholawat 1000 kali pada saat siang dan malam, berdzikir beribu kali dan Puasa Nabi Daud AS, serta mengerjakan Sholat malam berjam-jam.

Habib Munzir muda sangat mencnitai Rasulullah SAW, beliau sering menangis merindukan Rasulullah SAW, dan beliau juga sering dikunjungi oleh Rasulullah SAW dalam mmimpinya.

Habib Mundzir Berguru ke Habib Umar bin Hafidz Hadramaut Yaman

habib munzir al musawa

Sebelum Habib Mundzir berguru ke Habib Umar, beliau pernah berdoa pada saat berziarah di makam habib Husein bin Abubakar Al Aydrus. Beliau berdoa agar dipertemukan dengan guru dari orang yang paling dicintai Rasulullah SAW.

Selang beberapa waktu setelah berziarah, kemudian beliau masuk di Pesantren Al Habib hamid Nagib bin Syekh Abubakar di Bekasi Timur. Beliau selalu menangis dan berdoa kepada allah SWT karena kerinduan beliau kepada Rasulullah SAW dan meminta agar segera dipertemukan dengan guru dari orang yang paling dicintai Rasulullah SAW.

Selang beberapa bulan kemudian, datanglah Guru Mulia Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidz, ke Pondok Pesantren Al Habib Husein bin Abubakar Al Aydrus, itu kunjungan beliau pertama pada tahun 1994.

Selepas Habib Umar menyampaikan Ceramah, kemudian beliau melirik Habib Munzir dengan tajam, saat itulah saya hanya bisa menangis memandangi wajah sejuk Habib Umar. Ketika saat Habib Umar sudah naik ke mobil bersama Almarhum Habib Umar Maulakhela, maka saat itu, Guru Mulia memanggil Habib Nagib bin Syekh Abubakar, Habib Umar berkata bahwa beliau ingin Habib Munzir dikirim ke Tarim Hadramaut Yaman unutk belajar dan menjadi murid dari Habib Umar bin Hafidz.

Dua bulan setelah pertemuan dengan Al Habib Umar bin Hafidz, maka datanglah Almarhum Habib Umar Maulakhela ke Pesantren dan menanyakan Habib Munzir kepada Habib Nagib:

Habib Umar Maulakkhela bertanya kepada Habib Nagib: “Mana itu Munzir, anak dari Habib Fuad Al Musawa? Karena Habib Munzir harus berangkat minggu ini, dan saya ditugasi untuk memberangkatkanya”.

Habib Nagib berkata : “Saya Belum siap”

Namun Almarhum Habib Umar Maulakhela dengan tegas menjawab: “saya tidak mau tahu, karena namanya sudah tercantum untuk harus berangkat, ini permintaan dari Habib Umar bin Hafidz, maka habib Munzir harus berangkat dalam dua minggu ini bersama dengan rombongan pertama”.

Kemudian itu, Habib Munzir langsung bergegas mempersiapkan Paspor dan lain-lainya. Namun saat itu Ayahnya sempat keberatan dan berkata: “Kamu sakit-sakitan, jika kamu berangkat ke mekkah ayah masih merasa tenang, karena ayah banyak teman disana, akan tetapi kalau kamu ke Hadramaut itu ayah tidak ada kenalan, disana negeri yang tandus, lalu bagaimana kalau kamu sakit? Siapa yang akan menjaminmu?”.

Menanggapi hal ini, maka Habib Munzir mengadukannya kepada Almarhum Al Arif Billah Al Habib Umar bin Hud Al Attas, dan pada saat itu beliau sudah sangat sepuh dan beliau berkata: “Katakan kepada Ayahmu, nanti saya yang akan menjaminmu, berangkatlah”.

Setelah mendengar nasihat dari beliau Al Habib Umar bin Hud Al Attas, Habib Munzir bergegas menemui Ayahnya, akan tetapi ayahnya hanya diam dan hatinya berat melepas keberangkatan Habib Munzir.

Ketika sudah berada di Tarim, Hadramaut, Yaman, pernah terjadi perang antara Yaman Utara dengan Yaman Selatan, hal ini memicu kekurangan pasokan makanan, matinya listrik, semua pelajar pada saat itu perjalanan untuk Ta’lim menempuh jarak sekitar 3-4 km.

Ketika sudah dua tahun berada di Yaman untuk menuntut Ilmu di Dar-al Musthofa, Pesantren yang di asuh oleh Al Habib Umar bin Hafidz, dikabarkan bahwa ayahnya sakit dan menelpon Habib Munzir dengan berkata: “Kapan kamu pulang wahai anakku..? Ayah rindu..? ”.

Habib Mundzir menjawab: “Insya Allah dua Tahun lagi Ayah? “.

Ayahnya menjawab: “Duh …… masih lama sekali”.

Setelah tiga hari berselang dikabarkan bahwa ayahnya meninggal dunia.

Habib Munzir Kembali Kejakarta dan Mulai Berdakwah

dakwah habib munzir

Pada saat tahun 1998 Habib Mundzir Al Musawa kembali ke Indonesia dan beliau mulai berdakwah sendiri di Cipanas. Namun karena kurang berkembang dakwah beliau di Cipanas, maka beliau memindah dakwahnya ke Jakarta pada Majelis malam Selasa, dengan mengunjungi rumah-rumah murid sekaligus teman, murid-muridnya yang lebih tua dari beliau, dan berasal dari kalangan awam. Beliau terus berdakwah dengan cara menyebarkan cintah dan kasih sayang Allah SWT yang membuat hati pendengar merasa sejuk.

Saat dimulainya Maulid Dhiya’ullami ketika itu jama’ah semakin banyak, karena itu selanjutnya Majelis berpindah-pindah yang sebelumnya dari rumah kerumah, kemudian pindah dari mushollah ke mushollah, semakin terus bertambah banyaknya jamaah, maka mulailah Majelis dari Masjid ke Masjid.

Sehingga Habib Mundzir mulai membuka majelis di malam lainnya dan menetapkannya di Masjid Al-Munawar. Semakin berkembangnya Majelis Habib Mundzir, maka hingga mulai saat itu membutuhkan Kop Surat, Undangan dan lain sebagainya.

Semenjak itu mulai muncul ide untuk pemberian nama, kemudian para jamaah mengusulkan dengan memberi nama Majelis Habib Mundzir, akan tetapi Habib Mundzir menolak dan akan menetapkan dengan nama Majelis Rasulullah.

Dakwah Habib Mundzir yang semakin luas hingga jutaan jamaah yang menyentuh semua kalangan dan tidak hanya ada di wilayah jabodetabek saja, namun mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Papua, Sulawesi, Kalimantan, Singapura, Malaysia hingga sampai ke Jepang.

Baca Juga : Biografi KH Abdurrahman Wahid, Silsilah, Pendidikan, dan Wafatnya

Wafatnya Habib Mundzir bin Fuad Al Musawa

wafatnya habib munzir al musawa

Menurut penuturan anak kedua dari Habib Munzir, pada saat hari minggu sebelum Habib Mundzir menginggal dunia, dirumah beliau sedang ramai dikarenakan ada acara pengajian Majelis An Nisa Rasullulah SAW. Beberapa saat kemudian, keluarga sempat mencari-cari Habib Mundzir karena tdak diketahui beliau sedang ada dimana, sementara itu, sedal dan mobil beliau masih ada dirumah. Maka saat itu, ketika pintu kamar diketuk dan tidak ada sahutan, pada akhirnya pintu tersebut di dobrak dan ditemui beliau Habib Mundzir sudah tidak sadarkan diri.

Maka dari itu Habib Mundzir pun langsung dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, berselang dua jam kemudian dan setelah beliau menjalani pemeriksaan medis, dokter berkata bahwa beliau Habib Mundzir sudah tiada. Menurut penuturan kerabatnya, beliau meninggal dikarenakan serangan jantung. Kabar meninggalnya Habib Munzir bin Fuad Al Musawa pun menyebarluas dengan cepat di berbagai penjuru Indonesia, salah satu sumber beritanya yaitu di akun twitter kakaknya Al Habib Nabiel Al Musawa dan juga di situs resmi Majelis Rasulullah.

Sebelum meninggalnya Habib Mundzir, Beliau juga pernah dioperasi karena ada cairan di perut beliau. Penyakit tersebut sempat mengganggu aktivitas Habib Mundzir pada saat berdakwah. Menurut kakaknya Habib Nabiel, meskipun beliau sedang dirundung rasa sakit, akan tetapi beliau tidak pernah memikirkan sakitnya.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *