KH Abdurrahman Wahid : Biografi, Silsilah, Pendidikan, dan Wafatnya

KH Abdurrahman Wahid atau yang sering akrab dipanggil dengan nama Gus Dur (lahir di Kota Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1940), Gus Dur lahir dengan nama Abdurrahman Adakhil. Adakhil yang berarti sang penakluk, dikarenkan “Adakhil” tidak cukup dikenal, lalu digantilah dengan nama “Wahid” yang kemudian dikenal dengan nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus dur.

Gus ialah nama panggilan kehormatan Khas Pesantren kepada seorang anak Kyai yang artinya “Abang” atau “Mas”.
beliau adalah anak pertama dari enam bersaudara. Saudara-saudara beliau ialah Aisyah, Salahuddin Al-Ayyubi, Umar Al-Faruq, Lilik Khadijah dan Muhammad Hasyim.

KH Wahid Hasyim adalah ayah dari Gus Dur yang terlibat dalam Gerakan Nasional dan menjadi Menteri Agama pada tahun 1949. Sedangkan ibu dari Gus Dur adalah Hj. Sholehah putri pendiri Pesantren Denanyar jombang.

Beliau juga lahir dari kelaurga yang cukup terhormat, kakek dari ayah beliau adalah KH Hasyim Asyari, yang merupakan pendiri dari organisasi terbesar yaitu Nahdlatul Ulama (NU), sedangkan kakek dari pihak ibunya adalah KH Bisri Syamsuri pengajar Pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan.

Silsilah KH Abdurrahman Wahid dari Rasulullah SAW

keluarga gus dur

Berdasarkan pada silsilah beliau, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mempunyai garis keturunan dari Rasulullah dan berikut ini silsilahnya:

  1. Rasulullah SAW
  2. Sayyidatina Fatimah Azzahra dengan Sayyidina Ali
  3. Sayyidina Husein bin Ali
  4. Sayyidina Ali Zainal Abidin
  5. Sayyidina Muhammad Al-Baqir
  6. Sayyidina Ja’far Shodiq
  7. Sayyidina Ali Al Uraidhi
  8. Sayyidina Muhammad Annaqib
  9. Sayyidina Isa Al Basr
  10. Sayyidina Ahmad Muhajir
  11. Sayyidina Abdullah
  12. Sayyidina Alwi
  13. Sayyidina Muhammad
  14. Sayyidina Ali Alwi
  15. Sayyidina Amir Abdul Malik
  16. Sayyidina Abdullah Khon
  17. Sayyidina Jamaludin Khusen
  18. Sayyidina Ishaq
  19. Sayyidina Ainul Yaqin (Sunan Giri)
  20. Sayyidina Abdurrahman (Jaka Tingkir)
  21. Sayyidina Abdul Halim
  22. Sayyid Abdul Wahid
  23. Sayyid Anu Sarwan
  24. Syeikh KH. Asy’ari (Jombang)
  25. Syeikh KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
  26. KH. Abdul Wahid Hasyim
  27. KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur

Masa Muda KH Abdurrahman Wahid

KH Abdurrahman Wahid Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid sendiri pernah menyatakan secara terbuka bahwa beliau memiliki darah Tionghoa. Gus Dur mengaku bahwa dirinya adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, Saudara kandung Tan Eng Hwa (Raden Patah) merupakan pendiri Kesultanan Demak.

Tan A Lok serta Tan Eng Hwa ialah anak dari Putri Campa atau Putri Tiongkok yang merupakan selir Raden Brawijaya V.Tan Kim Han sendiri, ketika berdasarkan penelitian seorang peneliti dari prancis yaitu Louis Charles Damais diidentifikasi sebagai Syeikh Abdul Qodir Al Shini yang ditemukan makamnya di trowulan.

Ketika tahun 1944, Gus Dur pindah dari Jombang ke Jakarta, dimana tempat ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah Organisasi yang berdiri dengan dukungan para tentara Jepang yang pada saat itu menduduki Indonesia. Seusai deklarasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kemudian Gus Dur kembali lagi ke jombang dan tetap berada disana selama perang kemerdekaan Indonesia pada saat dijajah Belanda. Ketika akhir perang tahun 1949, Gus Dur pindah ke Jakarta dan ayahnya ditunjuk mejadi Menteri Agama.

Gus Dur belajar di Jakarta dan mulai masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Untuk memperluas pengetahuan Gus Dur, ayahnya sendiri juga mengajarkan Gus Dur untuk membaca buku Non-Muslim, Majalah dan Koran, Surat kabar, Novel maupun buku lainnya. Meskipun ayahnya sudah tidak menjadi Menteri Agama pada tahun 1952, akan tetapi Gus Dur tetap tinggal di Jakarta dengan Kelaurganya. Pada saat April 1953, Ayah Gus Dur meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Pendidikan Gus Dur tetap berlanjut dan pada saat tahun 1954, Gus Dur masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Pada saat tahun itu, Gus Dur tidak naik kelas. Kemudian ibunya mengirim Gus Dur ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dan mengaji dengan KH. Ali Maksum di Pondok Pesantren Krapyak dan pada tahun 1957 Gus Dur belajar di SMP, Setelah lulus di SMP, Gus Dur kemudian pindah ke Magelang untuk memulai Pendidikan Muslim di Pesantren Tegalrejo. Beliau mengembangkan reputasi sebagai murid yang berbakat, setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren dalam waktu dua tahun (Seharusnya 4 tahun).

Pada saat tahun 1959, Gus Dur kemudian pindah di Pondok Pesantren Tambakberas di Jombang. Saat disana beliau sementara melanjutkan pendidikannya sendiri, kemudian Gus Dur juga menerima pekerjaan pertamanya menjadi Guru dan nantinya menjadi Kepala Sekolah Madrasah. Gus Dur juga bekerja menjadi Jurnalis Majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

Pendidikan Gus Dur Saat di Luar Negeri

KH Abdurrahman Wahid

ada saat tahun 1963, Kementrian Agama memberi Beasiswa kepada Gus Dur untuk belajar Studi Islam di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

Pada bulan November 1963 Gus Dur pergi ke Mesir, Walaupun Gus Dur sudah mahir berbahasa Arab, Gus Dur terpaksa mengambil kelas remedial dikarenakan beliau tidak mau memberi bukti bahwa beliau memiliki kemampuan bahasa arab.

Karena itu, Gus Dur diberitahu oleh pihak Universitas bahwa Gus Dur harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan Bahasa Arab. Tahun 1964 Gus Dur sangat menikmati hidupnya saat berada di Mesir, beliau sendiri suka menonton film eropa maupun amerika, namun bukan itu saja, beliau juga suka menonton pertandingan sepak bola.

Gus Dur sendiri juga pernah terlibat dengan Asosiasi Pelajar Indonesia serta menjadi Jurnalis Majalah Asosiasi tersebut. Gus Dur berhasil lulus di kelas remedial pada saat akhir tahun.

Pada Tahun 1965 Gus Dur Kecewa, Ketika beliau sudah memulai belajar dalam islam dan Bahasa Arab, beliau sudah mempelajari materi yang diberikan serta menolak dengan metode belajar yang digunakan Universitas.

Ketika di Mesir Gus dur dipekerjakan di Kedutaan Besar Indonesia. Pada saat beliau mulai bekerja, terjadi peristiwa Gerakan 30 September (G30S), ketika Mayor Jendral Suharto menangani situasi ini di jakarta, dalam upaya untuk memberantas para komunis, dilakukanlah pemberantasan sebagai bagian dari upaya tersebut.

Kedutaan Besar Indonesia di Mesir, diperintah untuk melaksanakan investigasi terhadap pelajar di Universitas serta memberikan laporan kedudukan politik meraka. Perintah ini diberikan kepada Gus Dur untuk ditugaskan menulis laporan.

Pada tahun 1966 Gus Dur menerusakan pendidikannya di Universitas Baghdad, Irak Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab, ketika sudah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad di tahun 1970, kemudian Gus Dur pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikannya dan belajar di Universitas Leiden, akan tetapi kecewa karena pendidikannya saat di Universitas Baghdad kurang di akui. Kemudian Gus Dur mulai pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia pada tahun 1971.

Baca Juga : biografi KH Hasyim Asy'ari Silsilah Keilmuannya

Awal Karir KH Abdurrahman Wahid

Awal Karir gus dur

Ketika Gus Dur kembali ke Jakarta,beliau mengharapkan bahwa dirinya akan pergi keluar negeri lagi guna melanjutkan belajar di Universitas McGill di Kanada. Akan tetapi beliau membuat dirinya sibuk dengan bergabung di lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) organisasi yang terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

Majalah Prisma didirikan oleh LP3ES dan salah satu kontributor utama majalah tersebut adalah Gus Dur, Selain bekerja menjadi Kontributor LP3ES beliau juga sering berkeliling ke Pesantren maupun ke Madrasah di seluruh Jawa. Saat itulah Gus Dur mulai perihatin dengan kondisi pesantren karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan dan kemiskinan pesantren yang Gus Dur lihat.

Gus Dur kemudian melanjutkan kariernya sebagai Jurnalis, beliau menulis untuk majalah dan surat kabar untuk Tempo dan Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan beliau mulai mengembangkan reputasinya sebagai komentator sosial.

Dengan popularitas intelektualnya itu, Gus Dur mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah serta seminar, Sehingga membuat Gus Dur harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Gus Dur tinggal bersama Keluarganya.

Pada saat tahun 1974, Gus Dur mendapatkan pekerjaan tambahan di jombang yaitu menjadi Guru di Pesantren Tambakberas. Setelah satu tahun kemudian Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.

Ketika Gus Dur bergabung di Universitas Hasyim Asy’ari pada tahun 1977 sebagai dekan fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam, akan tetapi Universitas ingin, agar Gus Dur mengajar Subyek tambahan Seperti Syariat Islam dan Misiologi.

Awal Keterlibatan Gus Dur di Organisani Nahdlatul Ulama

Setelah Gus Dur kembali ke Tanah air, beliau tidak langsung berkiprah di Kepengurusan Nahdlatul Ulama. Ketika Gus Dur diminta berperan aktif untuk menjalankan NU Gus Dur malah menolaknya.

Setelah kakeknya KH. Bisri Syamsuri membujuk Gus Dur, pada akhirnya Gus Dur menerimanya. Dikarenakan mengambil pekerjaan ini, maka Gus Dur memilih pindah dari Jombang ke Jakarta. Sebagai anggota Dewan Penasihat Agama, Gus Dur memimpin dirinya sebagai reforman NU.

Mereformasi Nahdlatul Ulama (NU)

Ketika itu, kebanyakan orang yang memandang NU menjadi Organisasi dalam keadaan Stagnasi/terhenti. Selepas melakukan diskusi, Dewan Penasehat Agama pada akhirnya membentuk Tim Tujuh (termasuk juga Gus Dur) untuk mengerjakan isu reformasi serta membantu untuk menghidupkan kembali NU.

Pada tanggal 2 Mei 1982, para pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid serta meminta agar beliau mengundurkan diri dikarenakan beliau sudah memandu NU mulai dari Era transisi kekuasaan Ir. Soekarno sampai ke Soeharto. Pada awalnya beliau melawan, akan tetapi akhirnya beliau mengundurkan diri karena tekanan.

Ketika tanggal 6 Mei 1982, Gus Dur mendengar bahwa pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu Gus Dur berkata bahwa permintaan untuk mundur tidak konstitusionil. Dengan bimbauan Gus Dur, Idham lalu membatalkan kemundurannya.

Pada tahun 1983, Soeharto tepilih kembali menjadi presiden untuk jabatan yang ke empat dan ketika mulai mengabil langkah untuk menjadikan Pancasila sebagai Idiologi Negara. Setelah Gus Dur berkonsultasi dengan bacaan seperti bacaan Qur’an serta Sunnah untuk pembenaaran dan pada akhirnya, Oktober 1983 Gus Dur menyimpulkan bahwa NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara.

Masa Jabatan Gus Dur

presiden ke 4 gus dur

Tahun 1984, Gus Dur berkiprah di NU sampai menjabat sebagai Ketua Umum Tanfidziyah hingga tahun 2000 (tiga Periode). Pada tahun 1999 Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-4 secara demokratif setelah menggantikan B.J Habibie.

Gus Dur sendiri menjabat jadi Presiden hingga Mei 2001. Saat menjabat menjadi presiden Gus Dur dikenal sebagai Presiden yang Humanis dan Humoris. Maka tidak heran, koleksi humor ala Gus Dur hingga saat ini dijadikan buku maupun lainnya.

Wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

makam gus dur

Gus Dur meninggal dunia disaat menginjak umur 69 tahun dan beliau meninggal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada tanggal 30 Desember 2009.

Abdul Moqsith Ghazali adalah orang yang dikenal sangat dekat dengan Gus Dur dalam sebuah kesempatan, Gus Dur menuturkan bahwa dirinya sempat ditawari oleh mailakat dengan umur sampai 90 tahun. “Buat apa umur panjang-panjang, yang sedang saja lah 69 tahun.

Dan pada akhirnya Gus Dur benar wafat pada saat usia tersebut,” Ghozali ketika mengisi forum ilmiah tentang moderasi Islam di Bogor, pada tahun 2018 lalu.

Ketika Gus Dur meninggal setelah beberapa hari dirawat di RSCM Jakarta. Saat dalam kondisi dirawat maupun setelah kepergian beliau, orang-orang tidak pernah berhenti mengunjungi beliau. Bahkan saking padatnya para pentakziyah yang dating dari berbagai daerah di Indonesia turut mengantarkan jenazah Gus Dur tersebut hingga ke tempat peristirahatan terakhir di Komplek makam keluarga beliau di Tebuireng, Jombang.

Di Pesantren Tebuireng saat itu tumpah ruah dan penuh sesak dengan para pentakziyah yang ingin menyaksikan proses dikebumikannya Gus Dur. Begitu juga jalanan utama yang ada di depan pesantren, terlihat banyak manusia yang berbondong-bondong ingin ikut mengantar Gus Dur.

Bukan hanya orang muslim saja yang memadati Masjid, Musholla, serta majelis-majelis untuk mendoakan Gus dur akan tetapi dari agama Konghucu, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha turut meramikan rumah ibadah masing-masing untuk mendoakan Gus Dur. Tidak hanya itu, bahkan meraka banyak yang memajang foto Gus Dur di Alteranya masing-masing.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *