Sunan Muria : Biografi, Nama Asli, Sejarah, Kisah, Letak Makamnya

Sunan Muria adalah salah satu anggota dari walisongo atau wali sembilan yang mempunyai peran penting dalam menyebarkan agama islam, khusus diwilayah gunung Muria, Jawa Tengah. Beliau mempunya nama asli yaitu Raden Umar Said, beliau merupakan putra dari Sunan Kalijaga dan terkenal dengan ilmunya yang sakti.

Beliau juga terkenal sebagai pencipta tembang sinom dan kinathi. Dalam melakukan dakwahnya, beliau lebih menekankan kepada kaum nelayan pedagang, dan juga rakyat jelata.

Biografi Sunan Muria

Sunan Muria

Sunan Muria putra dari Sunan Kalijaga melalui pernikahannya dengan Dewi Saroh putri dari Syaikh Maulana Ishaq, seorang ulama terkenal di samudra Pasai Aceh. Dengan demikian Raden Umar Said merupakan keponakan dari Sunan Giri. Disaat masih kecil, Raden Umar Said mempunyai nama Raden Prawoto, Selain itu beliau juga biasa dipanggil dengan nama Raden umar said atau Raden Umar Syahid.

Ketika sudah menginjak dewasa, beliau menikah dengan Dewi Sujinah putri dari Sunan Ngudung (Raden Usman Haji). Sunan Ngudung ini adalah salah satu putra dari Sultan di Mesir yang melakukan perjalanan hingga ke Tanah Jawa. Sementara itu, Sunan Ngudung sendiri merupakan ayah dari Suna Kudus. Dengan pernikahannya beliau dengan Dewi sujinah, Raden Umar Said dikaruniai putra yang bernama Pangeran Santri atau Sunan Ngadilangu.

Menurut beberapa kisah-kisah beliau, selain menikah dengan Dewi Sujinah, beliau juga mempersunting Dewi Roroyono yang terkenal dengan kecantikannya.

Dewi Roroyono ini merupakan putri dari Sunan Ngerang, Seorang ulama yang terkenal du Juwana yang mempunyai ilmu atau kesaktian yang begitu tinggi, dan juga merupakan guru dariĀ  Sunan kudus dan Sunan Muria sendiri. Kecantikan dewi Roroyono banyak memicu pertumpahan darah yang membuktikan kesaktian dari Raden Umar Said.

Wilayah Dakwah Raden Umar Said

Wilayah Dakwah Sunan Muria

Dalam hal berdakwah, beliau lebih banyak mengambil metode dakwah milik ayahnya. Akan tetapi, beliau lebih memutuskan pada daerah terpencil serta dan yang jauh dari pusat kota. Tempat tinggal beliau terletak disalah satu puncak gunung Muria namanya desa Colo.

Dari nama gunung tersebut maka muncul dengan sebutan Sunan Muria. Selain berdakwah, disana beliau juga berkumpul dengan rakyat jelata untuk mengajarkan keterampilan bercocok tanam, berdagang, dan juga melaut.

Sementara itu, selain mengajarkan islam disekitar gunung serta lereng Muria, Raden Umar Said juga memperluas dakwahnya ke wilayah Tayu, Kudus dan Juwana. Beliau dan keluarga berserta para muridnya terkenal dengan fisiknya yang begitu kuat. Bayangkan jika beliau dengan murid-muridnya harus naik gunung yang tingginya sekitaran 750 meter, untuk dakwah diwilayah tersebut.

Metode Dakwah Sunan Muria

METODE DAKWAH SUNAN MURIA

Dalam metode dakwah beliau, ada beberapa bagian, berikut 4 metode dakwah Sunan Muria:

1. Menitik Beratkan Pada Rakyat Jelata

Dalam menyebarkan agama islam, beliau lebih toleran kepada rakyat jelata dan bukan kaum bangsawan. Beliau lebih senang mengasingkan diri bersama rakyat jelata dari pada tinggal dipusat kerajaan Demak. Metode dakwah beliau sering disebut dengan Topo Ngeli, yang mempunyai arti menghanyutkan diri didalam masyarakat. Maka dari itulah Sunan Muria lebih mudah dalam mengajak masyarakat untuk masuk agama islam.

Sementara itu, agar bisa berkumpul dengan masyarakat sekitar pegunungan tesebut, maka beliu sering memberikan pembelajaran tentang keterampilan untuk para pelaut, nelayan, pedagang, dan juga rakyat jelata. Dengan begitulah, beliau bisa mengumpulkan mereka yang notabennya yaitu perkerja yang sangat sulit untuk meluangkan waktu belajar agama. Dengan adanya kursus, beliau dapat dengan mudah menyampaikan ajaran islam kepada mereka.

2. Dakwah Bil Hikmah Dengan Akulturasi Budaya

Meskipun beliau diterima dengan baik oleh masyarakat, bukan berarti proses dakwah beliau berjalan dengan lancar. Kebanyakan penduduk di kawasan gunung Muria masih mengikuti kepercayaan turun temurun yang sangat kental dan sulit untuk diubah. Oleh karena itu, beliau metode dakwahnya sama seperti para wali lainnya yaitu bil hikmah, atau dengan cara bijak yang tidak memaksa.

Dalam menyikapi kebiasaan masyarakat yang sering melakukan adat kenduren, maka beliau meniru gaya moderat ayahnya yang tidak mengharamkan tradisi peringatan telung dino hingga sewu dino. Tradisi tersebut yang dilakukan untuk memperingati hari-hari tertentu kematian anggota keluarga tidak ada larangan, kecuali adat untuk membakar kemenyan atau memberikan sesajen ditempat tertentu, kemiduan diganti dengan sholawat dan doa untuk ahli kubur.

3. Mempertahankan Kesenian Gamelan dan Wayang

Sunan Muria juga masih tetap mempertahankan alat musik daerah seperti gamelan dan kesenian tradisional wayang untuk media berdakwahnya. Beliau tidak mengubah budaya yang ada, akan tetapi dalam kesenian dan alat musik tersebut ketika dimainkan dimasukkan ajaran-ajaran agama islam.

Beberapa peran utama dalam pewayangan dirunah karekternya dengan membawa pesan-pesan islam, seperti kisah Dewi Ruci, Jimat Kalimsada, Mustakeweni, Petruk dadi Ratu, Semar Ambarang Jantur, dan lain sebagainya

4. Menciptakan Beberapa Tembang Jawa

Selain mempertahankan kesenian daerah seperti gamelan dan wayang, Sunan Muria juga menciptakan beberapa tembang Jawa macapat yang berisi tentang ajaran islam. Beberapa karya beliau yang terkenal hingga sekarang yaitu tembang sinom dan kinathi.

Dengan menggunakan tembang atau lagu maka masyarakat akan lebih mudah menerimanya, dan mampu mengingat nilai-nilai dan ajaran islam yang terkandung didalamnya untuk bisa diterapkan dalam kehidupan.

Sifat Teladan Yang Dimiliki Raden Umar Said

Sifat Teladan Yang Dimiliki Sunan Muria

Mengasingkan diri ditengah masyarakat jelata membuat kepribadian beliau lebih epka serta lebih toleran terhadap berbagai masalah. Bahkan juga beliau kerap sekali memberikan solusi setiap berbagai masalah yang begitu rumit. Seperti waktu konflik internal dikesultanan Demak pada tahun 1518-1530 M. Beliau mempu menjadi penengah serta memberikan solusi terbaik yang bisa diterima oleh berbagai pihak dan membuatnya sangat dihormati diberbagai kalangan.

Selain itu, keteladanan sifat beliau juga bisa tergambar dengan caranya yang lebih memilih untuk berkumpul dengan rakyat kecil dan meninggalkan keramaian didalamm kerajaan Demak. Sikap tersebut patut dicontoh dalam kehidupan bermasyarakat. yang dimana dalam mensosialisasikan kebijakan umum maka sudah selayaknya bisa menjangkau seluruh elemen masyarakat serta tidak berhenti pada orang-orang yang tertentu saja.

Kisah Dewi Roroyono dan Bukti Kesaktian Sunan Muria

Kisah Dewi Roroyono dan Bukti Kesaktian Sunan Muria

Bukti Kesaktian Sunan Muria diceritakan dalam kisah pertarungan beliau yang berusaha untuk mendapatkan Dewi Roroyono. Ceritanya, Dewi Roroyono yang merupakan putri dari Sunan Ngerang yang sangat disegani di desa Juwana, sedang berulang tahun yang ke-20. Waktu itu Sunan Ngerang mengadakan syukuran dengan mengundang semua tetangga, saudara, dan juga para muridnya seperti Sunan Kudus, Kapa, adiknya Gentiri Adipati Pathak Warak, dan juga Sunan Muria.

1. Terbius Dengan Kecantikan Dewi Roroyono

Ketika semua yang diundang sudah berkumpul, Dewi Roroyono dan adiknya Dewi Roro Pujiwati keluar untuk memberi hidangan makanan dan minuman. Keduanya merupakan wanita yang begitu cantik, terutama ialah Dewi Roroyonoyang sudah menginjak usia 20 tahun. Bagi mereka yang tidak bisa menjaga pendangan matanya seperti Adipati Pathak Warak akhirnya terseret oleh godaan setan. adipati tersebut memandangi paras cantik Dewi Roroyono hingga matanya tidak berkedip sama sekali.

Kemudian, Adipati tersebut menggodanya dengan ucapan yang tidak pantas dan tindakan yang kurang ajar sehingga membuat Dewi merasa malu dan marah. Dewi Roroyono pada akhirnya menumpahkan nampan yang berisi minuman ke pakaian sang Adipati yang membuatnya marah dan menyumpahi Dewi Roroyono. Adipati tersebut hampir saja menampar Dewi Roroyono. Seketika Dewi pun masuk kedalam kamar dan menangis karena dipermalukan oleh Adipati Pathak Warak.

2. Usaha Penculikan Dewi roroyono

Waktu tiba malam hari, syukuran tersebut sudah selesai dan semua tamu undangan sudah pulang kecuali yang datang dari jauh, termasuk juga Adipati Pathak Warak. Akan tetapi Adipati tersebut tidak bisa tidur karena masih teringat dengan wajah ayu Dewi Roroyono.

Adipati pun pada akhirnya mengendap-endap ke kamar Dewi dan membiusnya dengan ilmu sirep. Kemudian, Adipathi masuk kamar Dewi lewat genteng dan membawa Dewi keluar lewat jendela menuju Mandalika, Kediri.

Sunan Ngerang yang mengetahui bahwa putri diculik, kemudian Sunan Ngerang membuat sayembara. Ia akan dijadikan saudara bagi anaknya jika menyelamatkan Dewi adalah perempuan, dan jika yang menyelamatkan Dewi seorang laki-laki akan dijadikan jodohnya.

Akan tetapi, tidak ada satu orang pun yang berani untuk menghadapi kesaktian Pathak Warak, Kecuali Sunan Muria. Ditengah perjalanannya mengejar Dewi, beliau bertemu dengan adik seperguruannya Kapa dan juga Gentiri yang lebih dahulu pulang.

3. Penyelamatan Dewi Roroyono

Sunan Muria menceritakan kejadian tersebut kepada Kapa dan adiknya Gentiri. Kemudian, kedua orang tersebut yang sangat menghormati Sunan Muria memutuskan untuk membantu beliau dan menyuruhnya agar ke padepokan untuk menemui para murid yang lebih membutuhkan.

Mereka juga berjanji akan memberikan Dewi pada Sunan Muria jika berhasil. Beliau yang tidak ingin berdebat dan menolak permintaan adik seperguruannya pada akhirnya mengabulkan permintaan tersebut.

Kedua saudara tersebut akhirnya berhasil merebut Dewi Roroyono dengan bantuan datuk wiku Lodhang asal Pulau Sprapat yang terkenal dengan kesaktian yang tidak ada tandingannya, Mereka pun akhirnya mengembalikan Dewi ke Sunan Ngerang. Pada hari berikutnya, Sunan Muria hendak pergi memastikan usaha Kapa dan Gentiri. Namun ditengah perjalanannya, beliau bertemu dengan Pathak Warak yang sedang menunggangi kuda. Beliau pun akhirnya menghadangnya.

4. Tumbangnya Pathak Warak Oleh Sunan Muria

Beliau pun menanyakan keradaan Dewi Roroyono kepada Pathak Warak, dan dijawabnya jika Dewi telah dibawa oleh Kapa dan Gentiri, sedangkan ia berusaha untuk merebutnya kembali. Beliau kemudian memasang kuda-kuda dengan mengucapkan jika Pathak Warak ingin merebut kembali Dewi maka langkai dulu mayat saya. Kemudian, Pathak Warak turun dan menyerang Sunan Muria dengan jurus cakar harimau. Namun Pathak Warak kalah hanya dengan beberapa gebrakan saja.

5. Hadiah Sayembara

Seluruh kesaktian Pathak Warak hilang seketika, bahkan ia pun tidak mampu berdiri dan berjalan. Kemudian, beliau melanjutkan perjalanannyake Juwana. Beliau disambut gembira oleh Sunan Ngerang yang telah diceritakan oleh Kapa dan Gentiri.

Kemudian, beliau dijodohkan dengan Dewi Roroyono. Sementara itu, Kapa dan Gentiri mendapatkan hadiah tanah didaerah Buntar yang menjadikan mereka berdua kaya dan berkecukupan.

6. Rasa Sesal Kapa dan Gentiri

Sunan Muria dan istrinya Dewi berbaahagia dipadepokan Muria, Kapa dan Gentiri yang membawa kembali Dewi Roroyono pada saat itu kelihatannya telah terpesona dengan kecantikannya. Mereka pun tidak bisa tidur dengan nyenyak dan menyesali atas tawaran baik mereka kepada Sunan Muria waktu itu. Mereka selalu membicarakan Raden Umar Said betapa enaknya beliau mendapatkan Dewi tanpa perjuangan, yang pada akhirnya mereka berdua menyulut dendam dihati.

7. Kematian Gentiri di Pertempuran Dengan Murid Sunan Muria

Meraka yang sudah dirasuki iblis pada akhirnya bertekad untuk merebut Dewi Roroyono dari kakak seperguruannya, dan berniatan Dewi dijadikan istri mereka berdua secara bergiliran. Akan tetapi, niat jahat tesebut berakhir buruk, Gentiri yang beraksi terlebih dahulu kepada Sunan, dan akhirnya kepergok oleh para muridnya dan menyebabkan pertempuran hebat diantara mereka. Sehingga akhirnya Gentiri mehadapi Sunan Muria dan menemui ajalnya di gunung tersebut.

8. Penculikan Dewi Roroyono Oleh Kapa

Berita kematian Gentiri tersebar dengan cepat diberbagi daerah, namun tidak membuat niat Kapa menjadi lemah. Kapa pun mendatangi gunung Muria secara diam-diam waktu malam hari dan tidak ada yang mengetahuinya. Kebetulan pada waktu itu, Sunan dan beberapa muridnya juga sedang berada di Demak Bintoro. Kapa membius para murid beliau yang lagi menjaga Dewi dan berhasil membawanya ke pulau Sprapat dengan sangat mudah.

9. Kejadian di Pulau Sprapat

Waktu pulang dari Demak Bintoro, Sunan juga bermasud untuk mendatangi datuk Wiku Lodhang yang ada di Pulau Sprapat. Meskipun Sang Wiku Lodhang memeluk agama lain, namun Sunan tetap bersahabat dengannya. Apalagi sang Wiku Lodhang juga telah membantu merebut Dewi Roroyono dari Pathak Warak sebelumnya. Sementara itu, Kedatangan Kapa dengan membawa Dewi tidak disambut dengan baik oleh Wiku Lodhang.

Datuk pun menghardik dan menistakan perbuatan muridnya tersebut. Datuk juga menyuruh untuk mengembalikan istri dari kakak seperguruannya, namun si Kapa menolaknya. Mereka berdua pun pada akhirnya berdebat cukup lama sehingga tidak menyadari jika kedatangan Sunan Muria. Beliau terkejut melihat istrinya terikat ditangan dan kakinya, dan melihat Kapa dan gurunya tengah bertengkar.

10. Kematian Kapa Murid Wiku Ladhong

Pada waktu Wiku Lodhang mau membebaskan Dewi dan sudah melepaskan ikatannya, kemudian terdengar jeritan Kapa yang bersamaan. Ternyata saat itu mengetahui kedatangan Sunan Muria dan Kapa pun mengeluarkan jurus aji pamungkasnya yang kemudian berbalik dan membunuh dirinya sendiri. Itulah salah satu kesaktian beliau yang mampu mengembalikan serangan lawannya.

Sunan Muria agak menyesal dan meminta maaf kepada Wiku Ladhong karena telah membunuh muridnya. Akan tetapi, Wiku Ladhong membenarkan pembelaan beliau dan menyalahkan perbuatan muridnya, karena tidak sepantasnya jika orang yang berilmu melakukan kejahatan yang sedemikian. Pada akhirnya dengan langkah gontai, kemudian Wiku Ladhong mengangkat jenazah Kapa dan menguburnya dengan layak. Sementara itu Sunan Muria dan Dewi Roroyono kembali ke padepokan.

Baca Juga : Biografi Gus Baha

Letak Makam Sunan Muria

makam sunan muria

Makan Raden Umar Said ini berada di puncak gunung Muria, sebelah utara kota Kudus. Untuk sampai ke makam beliau maka harus menaiki sekitar 700 tangga dari pintu gerbang. Letak makam beliau berada persis dibelakang masjid Sunan Muria. Yang membedakannya dari makam wali yang lainnya, yakni letak makam beliau yang menyendiri dan berada jauh dari para punggawannya, sama seperti sifat beliau yaitu suka menyendiri.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *